TANGERANG, HaluanNews.co.id – Pemkab Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang terus melakukan kampanye Gerakan Stop Boros Pangan di masyarakat Kabupaten Tangerang.
Gerakan Stop Boros pangan adalah kampanye untuk mengurangi susut dan sisa makanan (food loss and waste) demi menjaga ketersediaan pangan dan masa depan bum
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan Kabupaten Tangerang Dr. Ujang Sudiartono menjelaskan Gerakan kampanye stop boros pangan hingga saat ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat, karena itu pihaknya terus berupa menyelipkan edukasi terkait perilaku stop boros pangan dalam setiap kegiatan sosialisasi yang menyasar masyarakat umum agar mereka melakukan tindakan menghemat pangan.
Dalam setiap kegiatan kami diminta melakukan langkah-langkah strategis, setiap berkegiatan kami akan terus mengkampanyekan stop boros pangan, dengan cara seperti tidak membelanjakan bahan pangan atau makanan, biasanya pembelian bahan pangan berlebihan akan membusuk di kulkas. Mari mulai sekarang beli seperlunya, daripada tidak digunakan dan terbuang begitu saja masih banyak keluarga lain yang membutuhkannya.
Ia lanjutkan saat ini sebagian wilayah Kabupaten Tangerang terdampak kekeringan atau dampak el nino juga tengah mengancam krisis pangan, selain intensifikasi tanaman produktivitas bahan pangan dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan di sekitar tempat tinggal, perilaku stop boros pangan menurutnya juga dapat mengatasi dampak buruk dari el nino yang menyebabkan perubahan pola cuaca global, yang berdampak signifikan pada iklim.

“Berdasarkan data kerusakan Tanaman Padi Akibat kekeringan MT 2026 dari POPT P4ovinsi Banten luasan areal pertanian terdampak di Kabupaten Tangerang seluas 125,75 Ha (data tanggal 27 Agustus 2026) tersebar di 16 Kecamatan dan 44 Desa dengan jenis varietas padi Inpari dan Ciherang,” ujar Ujang.
Sesuai dengan Perkembangan Prakiraan Cuaca dari BMKG kita masih terus melakukan inventarisasi dan pendataan terkait dgn jumlah area lahan sawah terdampak. Pemerintah daerah berkolaborasi dengan Kementerian PU dan Kementan telah menyiapkan pembangunan IRPOM, IRPIP, JIAT, program PM-AAS, dan penyediaan benih pengganti untuk petani/sawah yang terdampak puso.
Ia berharap stop boros pangan dapat diterapkan dengan benar-benar mengonsumsi makanan sampai habis tak bersisa. Sementara belanja bijak dapat diaplikasikan dengan membeli keperluan pangan sesuai kebutuhan dan tidak perlu sampai panic buying.
“Kami terus mengajak masyarakat untuk menerapkan stop boros pangan sebagai upaya menjaga ketahanan pangan. Karena perilaku boros pangan selain bagian dari perilaku mubazir, dampaknya merugikan secara ekonomi bahkan lingkungan,” katanya.
Lebih lanjut, Muadi memberikan beberapa tips mengurangi boros pangan diantaranya menyusun rencana menu makanan keluarga, belanja bahan makanan sesuai kebutuhan, simpan makanan dengan baik dan benar sesuai karakteristik bahan makanan, mengkonsumsi bahan makanan secara beragam sesuai kebutuhan dan olah kembali makanan berlebih serta membagikan makanan apabila ada makanan berlebih. (ADV)
