HaluanNews.co.id – Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK) Provinsi Banten kembali didaulat sebagai narasumber dalam kegiatan yang digagas Indonesia Median Foundation (IMF) yang bernama KOMPAS (Kritis, Online, Mandiri, Positif, Aman, Santun) Seri Ke-4 di SMAN 2 Rangkasbitung Kab. Lebak, Jum’at (30/10).

Sebanyak 50 Siswa serta 10 Guru dan Staf antusias mengikuti edukasi Literasi Artificial Intellegence (AI). Tidak hanya paparan, tim narasumber juga menyajikan permainan interaktif yang berhadiah merchandise dari Relawan TIK Banten dan salah seorang donatur buku.

Pada sesi pertama, Ketua Relawan TIK Provinsi Banten, Ahmad Taufiq Jamaludin sebagai narasumber menyampaikan tentang pentingnya literasi digital, dan literasi AI yang mencakup tentang pentingnya kita memahami AI, lalu waspada terhadap berbagai risikonya, serta menjaga keamanan digital pribadi, jangan sampai memasukkannya sehingga terjadi kebocoran data yang berisiko terhadap keamanan diri.

“Mahir menggunakan AI merupakan bagian pilar literasi digital, yakni kecakapan digital. Karenanya etika dan risikonya harus kita pahami dengan baik agar tidak merugikan diri dan keluarga. Ada 4 (empat) risiko penggunaan AI, yakni: potensi penyalahgunaan dan hoaks, bias dalam data dan hasil, pelanggaran privasi dan keamanan data, terakhir krisis sumber saya air bersih,” ungkap Taufiq.

Taufiq juga mengajar peserta lebih kritis dan jeli untuk membedakan konten AI dan asli dengan beberapa variabel.

“Konten AI secara kasat mata bisa dibedakan. Seperti bentuk tubuh yang anomali, pakaian, gerakan, serta kesan yang terlalu sempurna dilakukan di dunia nyata,” jelas Taufiq.

Sebelum sesi kedua, peserta diajak bermain menebak konten AI atau bukan dari apa yang ditampilkan di layar. Rahma salah seorang murid merasa seru dan antusias menjawab alasan kenapa pilihannya itu diyakini sebagai konten AI.

“Itu tuh terlalu bagus, mobil melintas di atas di atas salju. Mobilnya bersih, dan begitu sempurna di atas salju yang rentan terjatuh ke dalam lubang esnya. Jadi aku yakin, ini AI,” seru Rahma.

Yulia Pratami yang akrab disapa Tami, Direktur IMF sebagai narasumber sesi 2 menyampaikan bahwa AI bisa saja salah. Tetapi terdengar yakin karena ada tren dan pengkultusan, inilah yang harus diwaspadai.

“Yang pertama halusinasi, Kadang AI mengarang fakta, tanggal, kutipan, bahkan daftar pustaka yang tidak pernah ada; kedua bias, AI meniru ketidakadilan dalam data latihnya, misalnya soal gender, suku, atau daerah; ketiga kurang paham konteks, AI lemah soal bahasa daerah, aturan lokal, dan kejadian yang paling baru,” ujar Tami.

Tami juga mengajak seluruh peserta untuk menggunakan AI untuk berdaya, bukan bergantung. Ia pun membagilan tips agar sehat dan etis dalam penggunaan AI.

“Agar sehat menggunakan AI, yang pertama, pikir dulu, baru tanya AI. Kedua, cek jawaban ke buku, guru, atau sumber resmi. Ketiga, atur waktu layar dan tetap mengobrol langsung,” papar Tami.

Selanjutnya, agar etis memakai AI, perhatikan beberapa hal berikut:
1. Hormati wajah dan data teman, jangan buat deepfake atau sticker teman, walau untuk bercanda.
2. Jujur, sebutkan bila tugasmu dibantu AI.
3. Inklusif, pakai AI untuk membantu teman, bukan merundung.

Eneng Kustiawati Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) menyampaikan rasa terima kasih yang luar biasa, karena sudah datang ke SMAN 2 Rangkasbitung.

“Kami haturnuhun pisan (Kami sangat berterima kasih), atas kunjungan bapak/ibu semua, mohon maaf bilamana jamuannya sederhana. Mudah-mudahan bisa datang kembali mengedukasi kami baik para guru dan muridnya, agar kami makin cakap digital,” ujar Eneng.

Sesi akhir diadakan praktikum cepat membuat konten dari AI (Gemini atau ChatGPT) tentang infografis pencegahan Demam Berdadah Dengue (DBD) atau konten promosi produk makanan / minuman. Salah seorang yang terpilih karena kontennya menarik dan lengkap tanpa anomali adalah Abraham Aufa Nugraha. Ia sangat senang dapat terpilih dan mendapatkan hadiah dompet elektronik.

“Alhamdulillah makasih Pak Taufiq atas hadiah Go-Paynya. Saya sangat terkesan dan senang bisa mengikuti kegiatan ini. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan dengan tema lainnya,” seru Abraham.

Sebagai informasi, program KOMPAS ini merupakan inisiasi Indonesia Median Foundation dan bekerja sama dengan Relawan TIK Indonesia. Sudah 4 (empat) seri yang berjalan, dan akan terus digalakan di wilayah Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat. (Yeni)