HaluanNews.co.id – Setiap transisi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi fase penting yang menentukan arah jam’iyah ke depan. Pergantian struktur bukan sekadar soal figur, melainkan ujian bersama: apakah NU tetap teguh berjalan di atas rel khidmah, adab, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Dalam suasana transisi inilah, ikhtiar menghadirkan duet kepemimpinan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Said Aqil Siroj patut dibaca sebagai upaya merawat kesinambungan, bukan ambisi kekuasaan.

Dalam tradisi NU, kepemimpinan tidak pernah diposisikan sebagai panggung kehormatan. Ia adalah amanah yang berat, yang lebih banyak menuntut kesediaan untuk ngopeni daripada keinginan untuk dipangku. Para masyayikh sejak lama menanamkan kesadaran bahwa memimpin berarti melayani dan menjaga, bukan sekadar tampil dan dipuji.

Karena itu, setiap kali NU memasuki masa transisi, kegelisahan warga NU sejatinya sama: siapa yang mampu menjaga jam’iyah tetap berada di jalur ulama dan adab, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj menghadirkan harapan akan kesinambungan itu. Bukan hanya pertemuan dua nama, melainkan perjumpaan antara regenerasi dan pengalaman panjang dalam memimpin NU. Transisi tidak dipahami sebagai pemutusan, tetapi sebagai penyambung khidmah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Imam Al-Ghazali meletakkan kaidah penting bahwa kepemimpinan hanya akan kokoh bila ditopang oleh ketaqwaan, akhlak mulia, serta ilmu dan kompetensi. Tiga perkara ini bukan formalitas administratif, melainkan laku hidup yang menuntun cara seorang pemimpin bersikap dan mengambil keputusan.

Gus Salam merupakan bagian dari mata rantai keulamaan NU. Ia adalah dzurriyat KH Bisri Syansuri, muassis NU sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif. Namun dalam pandangan warga NU, nasab bukanlah keistimewaan yang otomatis menjadi legitimasi. Ia adalah amanah yang harus ditebus dengan ilmu, adab, dan kesungguhan berkhidmah.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Gus Salam dikenal tekun dalam tradisi bahtsul masail. Ia tidak hanya piawai membaca dan mengurai kitab kuning, tetapi juga berusaha menghadirkannya sebagai panduan hidup umat di tengah perubahan zaman. Fikih dan manhaj NU diposisikannya sebagai penuntun, bukan alat mempertajam perbedaan.

Pengalaman Gus Salam dalam struktur jam’iyah NU—mulai dari Katib Syuriyah PBNU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, hingga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur—membentuknya sebagai sosok yang memahami dinamika NU dari dalam. Ia terbiasa menghadapi perbedaan dengan musyawarah dan adab, bukan dengan kegaduhan.

Sementara itu, KH Said Aqil Siroj adalah ulama sepuh yang telah lama menjadi rujukan warga NU. Sanad keilmuannya dari pesantren besar hingga Ummul Qura Makkah menjadi fondasi keilmuan yang kokoh. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode menjadikannya sosok yang matang dalam menyikapi dinamika internal sekaligus tantangan eksternal.

Dalam peran Rais Aam, KH Said Aqil Siroj diharapkan mampu meneguhkan kembali Syuriyah sebagai penjaga arah dan ruh jam’iyah. Bukan hanya menjaga struktur, tetapi memastikan transisi kepemimpinan tidak menggeser NU dari manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj merepresentasikan watak dasar NU: kesinambungan antara generasi muda dan kiai sepuh, antara semangat pembaruan dan kearifan tradisi, antara ikhtiar lahir dan doa batin. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tetapi juga tidak berhenti—alon-alon asal kelakon.

Bagi warga NU, fase transisi ini selayaknya disikapi dengan husnuzan. Sebab NU besar bukan karena satu figur, melainkan karena jam’iyah yang dirawat bersama dengan keikhlasan dan adab. Jika amanah kepemimpinan kelak dipikul oleh mereka yang layak, maka kewajiban kita adalah membantu, mengingatkan, dan mendoakan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin NU dalam setiap fase transisi, meluruskan niat mereka, meneguhkan langkah mereka, dan menjadikan setiap khidmah sebagai amal yang diterima. Sebab pada akhirnya, NU tidak sedang mencari siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling siap menjaga dan mengabdi.

Banten, Februari 2026

Penulis:
H. Ahmad Imron
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah