HaluanNews.co.id – Nasib revitalisasi Pasar Kronjo, Kabupaten Tangerang, yang hingga kini belum tuntas kembali menjadi sorotan. Sedikitnya 200 pedagang dilaporkan gulung tikar akibat proyek revitalisasi yang dikerjakan PT Trivalenia Citra Utama (TCU) tersebut mangkrak dan belum menunjukkan kepastian kelanjutan.

Persoalan tersebut mencuat dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang bersama para pedagang, Perumda Pasar Niaga Kerta Raharja (NKR), pihak pengembang PT TCU, dan Camat Kronjo di ruang rapat gabungan DPRD Kabupaten Tangerang, Senin (2/11/2026).

Dalam RDP tersebut, Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang memberikan tenggat waktu 15 hari kepada seluruh pihak terkait untuk duduk bersama mencari solusi konkret atas persoalan revitalisasi Pasar Kronjo.

Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang, Yakub, yang memimpin jalannya RDP, mengatakan seluruh pihak telah diberikan kesempatan menyampaikan pandangan dan persoalan masing-masing. Selanjutnya, mereka diminta segera melakukan pembahasan untuk menentukan kepastian nasib proyek tersebut.

“Tadi semua pihak sudah kami dengar pendapatnya. Untuk itu, Komisi II DPRD memberikan tenggat waktu 15 hari kepada para pihak, baik pedagang Pasar Kronjo, developer PT TCU maupun Perumda Pasar NKR agar duduk bareng mencari penyelesaian terbaik,” ujar Yakub.

Menurutnya, pembahasan tersebut harus menghasilkan keputusan yang jelas, termasuk mengenai kelanjutan proyek revitalisasi maupun kemungkinan perubahan perjanjian atau adendum terkait penambahan masa pengerjaan.

“Dengan tenggat waktu itu, kami minta nantinya sudah ada keputusan apakah revitalisasi dilanjutkan atau tidak, apakah developer PT TCU masih mau menggarap proyek itu dengan mengajukan perubahan adendum atau sebaliknya mundur. Silakan manfaatkan tenggat waktu tadi, nanti kita panggil lagi,” tegas politikus NasDem tersebut.

Sebelumnya, perwakilan Komunitas Pedagang Pasar Kronjo (KPPK), H. Aspuri dan Ade I, mengungkapkan bahwa mangkraknya revitalisasi telah berdampak serius terhadap keberlangsungan usaha para pedagang. Sedikitnya 200 pedagang terpaksa menghentikan aktivitas perdagangan dan kehilangan mata pencaharian.

Aspuri mengatakan, kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin diperparah oleh dampak pandemi Covid-19.

“Mereka gulung tikar dan kini menganggur, entah sampai kapan ini akan berlangsung. Ini diperparah bersamaan munculnya wabah Covid-19 pada 2019 dan terus berlanjut hingga kini,” ungkap Aspuri.

Ade menambahkan, para pedagang sempat menaruh harapan besar ketika proyek revitalisasi mulai dilaksanakan Perumda Pasar NKR dengan menggandeng PT TCU. Namun, harapan tersebut kemudian meredup karena harga tempat usaha yang ditawarkan pengembang dinilai jauh di luar kemampuan pedagang.

Selain persoalan harga, para pedagang juga mempersoalkan kondisi tempat penampungan sementara (TPS) yang disediakan pengembang. Lokasi TPS dinilai tidak layak karena dibangun di bawah peil banjir sehingga kerap tergenang ketika terjadi banjir.

“Sehingga kalau banjir, TPS menjadi becek. Bahkan, barang-barang pedagang ikut terendam dan banyak yang hanyut,” jelas Ade.

Sebagai bentuk solusi, KPPK kemudian menginisiasi pembangunan TPS Gotong Royong yang dinilai lebih layak karena berada di lokasi lebih tinggi dari peil banjir.

“Ini sama sekali bukan TPS tandingan, tetapi lebih kepada solusi agar pedagang tetap bisa berjualan,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Kronjo M. Mumu Mukhlis mengakui bahwa ketidakpastian kelanjutan revitalisasi Pasar Kronjo telah membuat nasib para pedagang terkatung-katung selama bertahun-tahun.

“Kasihan juga mereka sejak 2019 nasibnya terkatung-katung. Semoga segera ada jalan keluar,” harapnya.

Di sisi lain, Direktur Utama PT TCU Rahmat saat dikonfirmasi enggan memberikan penjelasan secara langsung terkait persoalan tersebut. Ia mengarahkan agar konfirmasi dilakukan kepada Jecky selaku pelaksana proyek yang dianggap lebih memahami kondisi di lapangan.

“Silakan tanya Pak Jecky saja yang tahu persis apa yang terjadi di lapangan,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan pihak PT TCU, revitalisasi Pasar Kronjo diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp18 miliar dengan luas area hampir 9.000 meter persegi.

Pelaksana PT TCU, Jecky, menjelaskan bahwa berdasarkan data awal terdapat sekitar 500 pedagang eksisting di Pasar Kronjo. Namun, jumlah tersebut kemudian menyusut menjadi 300 pedagang dan terakhir hanya 105 pedagang yang mencicil tempat usaha, baik berupa kios maupun bentuk tempat berdagang lainnya.

Jecky juga mengklaim bahwa warga yang hadir dalam RDP bersama DPRD Kabupaten Tangerang bukan merupakan pedagang yang sejak awal telah menjalin kesepakatan dengan pihak pengembang.

“Saya pastikan mereka itu orang baru yang tak pernah menjalin kesepakatan dengan kita,” katanya.

Meski demikian, Jecky tidak menampik bahwa pengerjaan fisik revitalisasi Pasar Kronjo saat ini telah terhenti. Ia menyebut kegiatan konstruksi untuk sementara dihentikan karena masa pengerjaan proyek telah berakhir sehingga diperlukan perubahan perjanjian atau adendum.

“Kemudian jangka waktu pengerjaan proyeknya juga sudah habis, tentu ini diperlukan adendum. Tetapi yang terpenting bagi kami adalah adanya kesungguhan pedagang untuk benar-benar komitmen dengan kesepakatan yang dibuat,” pungkasnya.

Melalui tenggat waktu 15 hari tersebut, Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang berharap seluruh pihak dapat mengesampingkan perbedaan kepentingan dan menghasilkan kesepakatan yang memberikan kepastian bagi keberlanjutan revitalisasi sekaligus melindungi kepentingan para pedagang Pasar Kronjo. (Rls/Yen)